Bisnis Bukan Sekadar Untung, Tapi Tentang Berbagi

 

Kerja di ladang mengajarkan bahwa kehidupan lahir dari proses, kesabaran, dan hati yang mau memberi.

Dalam dunia bisnis—termasuk pertanian dan agribisnis—kita sering diajari satu hal sejak awal: tujuan utama usaha adalah profit. Untung sebesar-besarnya, secepat-cepatnya. Tidak salah. Tetapi jika bisnis berhenti di sana, maka ada sesuatu yang hilang.

Bisnis sejatinya bukan hanya soal angka, melainkan soal nilai. Soal bagaimana sebuah usaha lahir dari hati yang rindu memberi manfaat bagi orang lain, bukan sekadar mengambil keuntungan dari mereka.

Gambar di atas menggambarkan hal itu dengan sangat jujur: seseorang yang bekerja di tanah, dengan alat sederhana, di bawah langit terbuka. Tidak ada kemewahan. Tidak ada glamor. Hanya proses, ketekunan, dan relasi antara manusia dan tanah.

Setiap petani memahami satu prinsip penting:

Tanah Tidak Pernah Berbohong

Jika tanah diolah dengan baik, dirawat, dibersihkan dari penyakit dan hama, maka pada waktunya tanah akan memberi kehidupan. Tetapi jika tanah diabaikan, dipaksa, atau dieksploitasi tanpa jeda, hasilnya akan muncul juga—dalam bentuk penyakit tanaman, serangan hama, dan kegagalan panen.

Sebelum menanam, tanah sering kali harus disterilkan. Bukan untuk merusaknya, tetapi justru untuk melindungi kehidupan yang akan tumbuh. Ada masa menunggu. Ada proses yang tidak instan. Ada biaya yang harus dikeluarkan di depan, demi hasil yang sehat di belakang.

Prinsip ini sangat relevan dengan dunia usaha.

Manusia Juga Berasal dari Tanah

Kitab Suci mencatat bahwa manusia diciptakan dari debu tanah. Ini bukan sekadar cerita asal-usul, tetapi pengingat bahwa manusia—seperti tanah—perlu dirawat dan dikendalikan, bukan dieksploitasi.

Keinginan-keinginan manusia, jika tidak dikelola, bisa menjadi sumber kerusakan:

  • Keinginan menguasai
  • Keinginan memperkaya diri sendiri
  • Keinginan menekan orang lain demi keuntungan

Dalam konteks bisnis, keinginan-keinginan ini sering muncul dalam bentuk:

  • Upah yang tidak adil
  • Jam kerja yang tidak manusiawi
  • Relasi kerja yang timpang
  • Manusia dipandang hanya sebagai alat produksi

Ketika itu terjadi, bisnis kehilangan jiwanya.

Dari Usaha Menjadi Eksploitasi

Tidak heran jika hari ini muncul istilah-istilah seperti “budak korporat” atau “budak perusahaan”. Istilah ini lahir bukan tanpa alasan. Banyak orang mengalami dunia kerja sebagai tempat yang menguras tenaga, waktu, dan martabat, tanpa memberikan ruang bertumbuh.

Masalahnya bukan pada bisnis itu sendiri.

Masalahnya adalah cara kita memandang manusia di dalam bisnis.

Jika bisnis hanya dilihat sebagai alat memperkaya segelintir orang, maka cepat atau lambat usaha itu akan rapuh—seperti tanah yang terus diperas tanpa dipulihkan.

Bisnis yang Sehat Selalu Dimulai dari Memberi

Dalam pertanian, benih tidak pernah menuntut tanah. Benih justru memberi dirinya lebih dulu—jatuh, mati, dan berproses—sebelum menghasilkan buah.

Prinsip yang sama berlaku dalam bisnis.

Bisnis yang bertahan lama biasanya tidak dimulai dari pertanyaan:

“Bagaimana saya bisa cepat kaya?”

Melainkan:

“Nilai apa yang bisa saya bagikan melalui usaha ini?”

Nilai itu bisa berupa:

  • Produk yang jujur
  • Pelayanan yang tulus
  • Lapangan kerja yang bermartabat
  • Penghidupan yang lebih baik bagi keluarga karyawan

Ketika nilai menjadi fondasi, profit akan mengikuti sebagai buah, bukan sebagai berhala.

Karyawan Bukan Beban, Tapi Sesama Penjaga Kehidupan

Dalam pertanian, tidak ada panen tanpa kerja bersama. Demikian pula dalam bisnis. Karyawan bukan sekadar biaya operasional, melainkan rekan seperjalanan.

Pertanyaan penting bagi setiap pengusaha adalah:

Apakah usaha ini membuat karyawan bertumbuh?Apakah mereka pulang dengan rasa dihargai?

Apakah kesejahteraan mereka ikut meningkat ketika usaha berkembang?

Menyejahterakan karyawan bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda kedewasaan bisnis. Orang yang merasa diperlakukan sebagai manusia akan menjaga usaha dengan hati, bukan sekadar kewajiban.

Bisnis sebagai Panggilan untuk Memberdayakan

Dalam perspektif iman dan nilai kehidupan, bekerja dan berusaha adalah panggilan untuk mengusahakan dan memelihara, bukan menguasai dan menghabiskan.

Bisnis yang sehat memiliki dimensi teologis dan etis:

  • Usaha sebagai sarana pelayanan
  • Keuntungan sebagai alat, bukan tujuan akhir
  • Kepemimpinan sebagai tanggung jawab
  • Kekayaan sebagai kesempatan berbagi

Ketika seorang pengusaha menggunakan akal budi, modal, dan jejaringnya agar orang lain menjadi berdaya, di situlah bisnis menemukan maknanya yang terdalam.

Dari Berdaya Menuju Berdaya Guna

Kita mungkin memiliki daya: ide, tenaga, atau sumber daya. Tetapi pertanyaannya bukan hanya apakah kita berdaya, melainkan apakah kita berdaya guna.

Usaha pertanian, agribisnis lokal, dan usaha kecil memiliki potensi besar untuk:

  • Menghidupkan desa
  • Menguatkan keluarga
  • Memulihkan relasi manusia dengan tanah

Bisnis seperti ini mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi akarnya kuat—seperti tanaman yang bertumbuh dari tanah yang dirawat dengan kasih.

 Menanam dengan Hati, Menuai dengan Tanggung Jawab

Tanah yang baik tidak lahir secara kebetulan. Ia dipersiapkan. Dirawat. Diberi waktu. Demikian pula bisnis yang sehat.

Jika sejak awal usaha dibangun dengan hati yang mau berbagi nilai, bukan sekadar mengejar untung, maka keberlanjutan akan datang secara alami.

Bisnis bukan hanya tentang kita.

Bisnis adalah tentang siapa yang ikut hidup karena usaha itu ada.

Dan mungkin, di situlah letak keberhasilan yang paling sejati.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url