Ketika Tanah Menjadi Korban
Manusia, Dosa, dan Tanggung Jawab Pemulihan
Dalam banyak percakapan tentang krisis lingkungan, pertanian modern, dan rusaknya tanah, sering kali perhatian kita tertuju pada tanah itu sendiri: tanah dianggap lelah, tandus, tidak produktif, atau rusak. Namun Kitab Suci menghadirkan sudut pandang yang berbeda dan sangat mendasar—bahwa persoalan tanah tidak bisa dilepaskan dari kondisi manusia yang mengelolanya.
Sebuah narasi penting dalam Kitab Kejadian menyatakan bahwa setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, yang dikutuk bukanlah manusia, melainkan tanah. Pernyataan ini mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hukuman kosmis. Ia membuka sebuah refleksi etis dan spiritual tentang relasi manusia dengan alam.
Kutuk atas Tanah, Bukan atas Manusia
Dalam Kitab Kejadian 3:17 tertulis bahwa Tuhan berkata kepada manusia, “Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”
Menarik untuk diperhatikan: Tuhan tidak berkata “terkutuklah engkau”, melainkan “terkutuklah tanah karena engkau”.
Ini bukan sekadar permainan kata. Secara naratif dan teologis, Kitab Suci ingin menunjukkan bahwa kerusakan relasi manusia dengan Sang Pencipta berdampak langsung pada ciptaan, khususnya tanah—sumber kehidupan dan keberlangsungan manusia itu sendiri.
Tanah menjadi simbol dari dunia yang harus menanggung akibat dari pilihan manusia. Ia tetap memberi hasil, tetapi tidak lagi dengan mudah. Ia tetap menopang hidup, tetapi kini disertai peluh, penderitaan, dan konflik.
Tanah Sebagai Korban, Bukan Musuh
Dalam banyak budaya modern, tanah sering diperlakukan sebagai objek: sesuatu yang harus ditaklukkan, dieksploitasi, dan dipaksa menghasilkan. Namun dalam narasi Kitab Suci, tanah bukan musuh manusia, melainkan korban dari ketidaktaatan manusia.
Tanah tidak berdosa, tetapi menanggung dampak dosa. Ia tidak memilih rusak, tetapi dirusakkan. Maka ketika tanah menjadi tandus, tercemar, atau kehilangan kesuburannya, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya “apa yang salah dengan tanah?” tetapi “apa yang salah dengan cara manusia mengelolanya?”
Mandat Mengelola, Bukan Menguasai
Jauh sebelum kejatuhan manusia, Kitab Kejadian mencatat bahwa manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memelihara (Kejadian 2:15). Dua kata ini menggambarkan keseimbangan antara produktivitas dan tanggung jawab.
Mengusahakan berarti bekerja, mengolah, dan menghasilkan.
Memelihara berarti menjaga, merawat, dan melindungi.
Masalah muncul ketika manusia hanya ingin mengusahakan tanpa memelihara. Ketika produktivitas dilepaskan dari tanggung jawab, tanah berubah dari mitra kehidupan menjadi korban eksploitasi.
Ketika Manusia Tidak Berubah, Tanah Terus Rusak
Kutuk atas tanah dalam Kitab Suci bukanlah vonis permanen yang tak dapat diubah. Ia adalah konsekuensi relasional, bukan hukuman final. Artinya, pemulihan tanah sangat terkait dengan perubahan sikap dan cara hidup manusia.
Dalam banyak bagian Kitab Suci, pemulihan alam selalu berjalan seiring dengan pertobatan dan perubahan manusia. Ketika manusia kembali hidup sesuai dengan kehendak Tuhan—hidup adil, rendah hati, dan bertanggung jawab—maka tanah pun digambarkan kembali berbuah dan memberi kehidupan.
Dengan kata lain, tanah tidak bisa dipulihkan tanpa pemulihan manusia.
Prinsip Istirahat bagi Tanah
Salah satu prinsip yang sangat relevan untuk konteks pertanian adalah gagasan bahwa tanah juga membutuhkan istirahat. Dalam hukum Israel kuno, tanah diberi waktu untuk tidak ditanami secara berkala. Prinsip ini bukan hanya soal teknik bertani, tetapi tentang pengakuan bahwa tanah memiliki batas.
Dalam bahasa modern, ini sejalan dengan gagasan keberlanjutan. Tanah yang terus dipaksa menghasilkan tanpa pemulihan akan kehilangan daya hidupnya. Ketika manusia mengabaikan batas-batas ini, sesungguhnya manusia sedang melawan tatanan ciptaan itu sendiri.
Pertanian Modern dan Tantangan Etika
Teknologi pertanian modern telah membawa banyak manfaat. Produksi meningkat, pangan lebih tersedia, dan banyak orang terbantu. Namun teknologi juga membawa risiko ketika digunakan tanpa kebijaksanaan.
Ketika pupuk, bahan kimia, dan teknologi digunakan hanya untuk mengejar hasil cepat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang, maka kita sedang mengulangi pola lama: memindahkan beban dosa manusia ke atas tanah.
Pertanyaannya bukan apakah teknologi itu salah, melainkan siapa yang mengendalikannya dan dengan nilai apa.
Mengembalikan Fungsi Tanah Dimulai dari Manusia
Jika tanah menjadi rusak karena manusia, maka tanah dipulihkan melalui manusia yang berubah. Bukan tanah yang perlu bertobat, melainkan cara berpikir, cara mengelola, dan cara hidup manusia.
Pemulihan tanah membutuhkan:
kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak, kerendahan hati untuk belajar dari alam,kesediaan untuk menahan diri demi generasi mendatang.
Dalam bahasa Kitab Suci, ini disebut hidup sesuai dengan ketetapan Allah. Dalam bahasa umum, ini disebut etika tanggung jawab.
Tanah Masih Menunggu
Tanah yang kita pijak hari ini masih setia memberi. Namun ia juga sedang “bersuara”—melalui erosi, pencemaran, dan krisis ekologi. Suara itu bukan kemarahan, melainkan peringatan.
Kitab Suci mengajarkan bahwa kerusakan tanah bukan akhir cerita. Selalu ada kemungkinan pemulihan. Tetapi pemulihan itu tidak dimulai dari teknologi baru, melainkan dari manusia yang mau berubah.
Karena pada akhirnya, tanah tidak membutuhkan manusia yang paling canggih, melainkan manusia yang paling bertanggung jawab.